Sabtu, 28 Januari 2017

Berbagi Kemiskinan ?



Di Indonesia, mungkin kita tidak pernah mendengar berita mengenai orang meninggal karena kelaparan namun itu bukan jaminan bahwa seluruh masyarakat Indonesia dapat dengan mudah mengakses pangan. Dosen saya pernah mengatakan bahwa semakin maju sebuah negara maka orang miskin semakin terpinggirkan. Di Paris misalnya, tanpa memiliki pekerjaan dan tempat tinggal, orang tidak akan mampu bertahan. Mereka akan terusir dengan sendirinya karena struktur kota tidak menerimanya dan memaksanya untuk keluar.
Lalu apa yang kita lihat di Jakarta? Gedung-gedung tinggi? Hotel mewah? Kehidupan kota yang glamour ? iya, tapi dibalik kemegahannya ada banyak orang yang bertahan hidup setiap hari hanya dengan uang sepuluh ribu rupiah saja, entah bagaimana caranya tapi mereka tidak mati kelaparan dan tetap survive. Bahkan kini muncul “keluarga gerobak” mereka adalah keluarga nomaden karena tidak memiliki tempat tinggal tetap. Biasanya, sang ayah berada di depan untuk menarik gerobak yang berisi anak-anaknya yang masih kecil yang duduk di atas tumpukan barang-barang yang telah usang sementara sang ibu mendorongnya dari belakang. Setiap pagi saya melihat satu keluarga gerobak itu di sekitar Jalan Juanda dan saya selalu berpikir bagaimana mereka bisa bertahan hidup dengan keadaan seperti itu?
Namun hampir setiap hari pula saya menyaksikan bagaimana orang-orang yang beruntung (atau mungkin diuntungkan) menggunakan uangnya hanya untuk sekadar sarapan mewah di restoran, nongkrong sambil minum kopi di cafe elit, menenteng tas yang berharga jutaan rupiah, dan segala kemewahan lainnya. Itu semua mereka lakukan hanya untuk memenuhi hasrat hedonisme dan tentu saja untuk sebuah prestige. Namun bagi “keluarga gerobak” sebagai disadvantage group, untuk memenuhi kebutuhan perut saja mereka kesulitan apalagi untuk sebuah prestige.
Dua potret kehidupan itu terjadi di kota yang sama, Jakarta. Di kota yang sama itu, dua golongan yang berbeda ini bertahan dengan gaya hidupnya masing-masing. Yang menarik adalah, bagaimana disadvantage group itu tetap bertahan tanpa kelaparan di kota yang kejam ini, bahkan seringkali kita dengar istiah “Ibukota lebih kejam dari ibu tiri”. Mungkin inilah kehebatan orang Indonesia, tanpa physical capital dan human capital yang memadai mereka bisa bertahan. Mereka seringkali lebih mengandalkan social capital untuk bertahan hidup. Kita semua menyaksikan bagaimana fenomena arus balik mudik setiap tahun. Banyak sekali orang dari desa yang membawa serta kerabatnya ke Jakarta tanpa menjanjikan pekerjaan yang layak sehingga pada akhirnya mereka berbagi pekerjaan dan tempat tinggal dan berdampak pada shared poverty. Sebenarnya apa yang telah mereka miliki di kota belum tentu bisa mencukupi kebutuhan dirinya sendiri namun tingginya sense of kinship membuat mereka rela untuk berbagi meskipun itu membuat kondisinya semakin sulit. Ya, mereka mengandalkan network yang dimilikinya. Selain itu, adanya trust pada kerabat juga membuat mereka terpaksa untuk berbagi kemiskinan.
Mungkin inilah salah satu sumber masalah kemiskinan di kota. Begitu kuatnya pesona Jakarta bagi orang-orang desa, dan adanya faktor push dan pull juga berperan penting disini. Ketika desa tidak lagi menjamin, mereka mencoba peruntungan di kota. Namun sayangnya kota tidak selalu sesuai dengan harapan. Meskipun begitu mereka masih bisa bertahan hidup meskipun harus berbagi kemiskinan.
Kemiskinan memang selalu menjadi masalah utama bagi developing country seperti Indonesia dan akan semakin pelik karena berpotensi memunculkan masalah-masalah lainnya. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa  Pada bulan Maret 2015, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,59 juta orang (11,22 persen), bertambah sebesar 0,86 juta orang dibandingkan dengan kondisi September 2014 yang sebesar 27,73 juta orang (10,96 persen). Data tersebut menunjukkan betapa banyaknya rakyat Indonesia yang hidup di dalam keterbatasan ekonomi.
Jika dilihat pemikiran David Mc Clelland tentang dari Teori Motivasi Berpartisipasi adanya fenomena shared poverty ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menonjolkan adanya need for affiliation yaitu masyarakat yang lebih mengutamakan pertemanan, kekerabatan dan kebersamaan. Berbeda dengan bangsa-bangsa berprestasi seperti Inggris yang lebih menonjolkan need for achievement.  Karakteristik masyarakat Indonesia yang mengutamakan kebersamaan dan rela berbagi ini memang budaya yang baik namun masihkah disebut baik jika yang dibagikan adalah kemiskinan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar