Di
Indonesia, mungkin kita tidak pernah mendengar berita mengenai orang meninggal
karena kelaparan namun itu bukan jaminan bahwa seluruh masyarakat Indonesia
dapat dengan mudah mengakses pangan. Dosen saya pernah mengatakan bahwa semakin
maju sebuah negara maka orang miskin semakin terpinggirkan. Di Paris misalnya, tanpa
memiliki pekerjaan dan tempat tinggal, orang tidak akan mampu bertahan. Mereka
akan terusir dengan sendirinya karena struktur kota tidak menerimanya dan
memaksanya untuk keluar.
Lalu
apa yang kita lihat di Jakarta? Gedung-gedung tinggi? Hotel mewah? Kehidupan
kota yang glamour ? iya, tapi dibalik kemegahannya ada banyak orang yang
bertahan hidup setiap hari hanya dengan uang sepuluh ribu rupiah saja, entah
bagaimana caranya tapi mereka tidak mati kelaparan dan tetap survive.
Bahkan kini muncul “keluarga gerobak” mereka adalah keluarga nomaden karena
tidak memiliki tempat tinggal tetap. Biasanya, sang ayah berada di depan untuk menarik
gerobak yang berisi anak-anaknya yang masih kecil yang duduk di atas tumpukan
barang-barang yang telah usang sementara sang ibu mendorongnya dari belakang.
Setiap pagi saya melihat satu keluarga gerobak itu di sekitar Jalan Juanda dan
saya selalu berpikir bagaimana mereka bisa bertahan hidup dengan keadaan
seperti itu?
Namun
hampir setiap hari pula saya menyaksikan bagaimana orang-orang yang beruntung
(atau mungkin diuntungkan) menggunakan uangnya hanya untuk sekadar sarapan
mewah di restoran, nongkrong sambil minum kopi di cafe elit, menenteng tas yang
berharga jutaan rupiah, dan segala kemewahan lainnya. Itu semua mereka lakukan
hanya untuk memenuhi hasrat hedonisme dan tentu saja untuk sebuah prestige.
Namun bagi “keluarga gerobak” sebagai disadvantage group, untuk memenuhi
kebutuhan perut saja mereka kesulitan apalagi untuk sebuah prestige.
Dua
potret kehidupan itu terjadi di kota yang sama, Jakarta. Di kota yang sama itu,
dua golongan yang berbeda ini bertahan dengan gaya hidupnya masing-masing. Yang
menarik adalah, bagaimana disadvantage group itu tetap bertahan tanpa
kelaparan di kota yang kejam ini, bahkan seringkali kita dengar istiah “Ibukota
lebih kejam dari ibu tiri”. Mungkin inilah kehebatan orang Indonesia, tanpa physical
capital dan human capital yang memadai mereka bisa bertahan. Mereka
seringkali lebih mengandalkan social capital untuk bertahan hidup. Kita semua
menyaksikan bagaimana fenomena arus balik mudik setiap tahun. Banyak sekali
orang dari desa yang membawa serta kerabatnya ke Jakarta tanpa menjanjikan
pekerjaan yang layak sehingga pada akhirnya mereka berbagi pekerjaan dan tempat
tinggal dan berdampak pada shared poverty. Sebenarnya apa yang telah
mereka miliki di kota belum tentu bisa mencukupi kebutuhan dirinya sendiri
namun tingginya sense of kinship membuat mereka rela untuk berbagi
meskipun itu membuat kondisinya semakin sulit. Ya, mereka mengandalkan network
yang dimilikinya. Selain itu, adanya trust pada kerabat juga membuat
mereka terpaksa untuk berbagi kemiskinan.
Mungkin
inilah salah satu sumber masalah kemiskinan di kota. Begitu kuatnya pesona
Jakarta bagi orang-orang desa, dan adanya faktor push dan pull
juga berperan penting disini. Ketika desa tidak lagi menjamin, mereka mencoba
peruntungan di kota. Namun sayangnya kota tidak selalu sesuai dengan harapan. Meskipun
begitu mereka masih bisa bertahan hidup meskipun harus berbagi kemiskinan.
Kemiskinan
memang selalu menjadi masalah utama bagi developing country seperti
Indonesia dan akan semakin pelik karena berpotensi memunculkan masalah-masalah
lainnya. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Pada bulan Maret
2015, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan
di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,59 juta orang (11,22
persen), bertambah sebesar 0,86 juta orang dibandingkan dengan kondisi
September 2014 yang sebesar 27,73 juta orang (10,96 persen). Data tersebut
menunjukkan betapa banyaknya rakyat Indonesia yang hidup di dalam keterbatasan
ekonomi.
Jika
dilihat pemikiran David Mc Clelland tentang dari Teori Motivasi Berpartisipasi adanya
fenomena shared poverty ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia
menonjolkan adanya need for affiliation yaitu masyarakat yang lebih
mengutamakan pertemanan, kekerabatan dan kebersamaan. Berbeda dengan
bangsa-bangsa berprestasi seperti Inggris yang lebih menonjolkan need for
achievement. Karakteristik
masyarakat Indonesia yang mengutamakan kebersamaan dan rela berbagi ini memang
budaya yang baik namun masihkah disebut baik jika yang dibagikan adalah
kemiskinan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar