Bukan
Idola yang Kita Butuhkan
Di
era yang serba teknologi ini dimana semua orang dapat mengakses informasi
secara global dan persaingan ekonomi semakin ketat, ternyata masih ada banyak
sekali orang yang tidak beruntung. Boro-boro memikirkan strategi bersaing
dengan masyarakat ASEAN, untuk memikirkan makan saja sulit. Ya, di balik semua
transformasi dan perkembangan yang terjadi di Indonesia, ada hal yang tidak banyak
berubah dari negeri ini yaitu terkait dengan masalah kemiskinan atau poverty.
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Pada bulan Maret
2015, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan
di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,59 juta orang (11,22
persen), bertambah sebesar 0,86 juta orang dibandingkan dengan kondisi
September 2014 yang sebesar 27,73 juta orang (10,96 persen). Data tersebut
menunjukkan betapa banyaknya rakyat Indonesia yang hidup di dalam keterbatasan
ekonomi.
Kemiskinan
memang selalu menjadi masalah utama bagi developing country seperti
Indonesia dan kemiskinan akan semakin
pelik karena berpotensi memunculkan masalah-masalah lainnya. Menurut saya
implikasi kemiskinan yang pertama adalah terbatasnya akses pendidikan pada
anak-anak atau generasi muda yang pada akhirnya akan berimplikasi pula pada
masalah-masalah sosial lainnya. Nasib generasi muda menjadi penting karena
merekalah aset bangsa yang akan membawa perubahan, perbaikan dan nasib bangsa
di masa depan. Tetapi sayangnya keterbatasan ekonomi membuat banyak orang tua
tidak mampu untuk menyekolahkan anaknya meskipun saat ini biaya pendidikan bisa
dikatakan tidaklah mahal karena pendidikan dasar sembilan tahun telah disubsidi
oleh pemerintah namun masih saja banyak orang tua yang mengaku tidak mampu
untuk membelikan seragam dan keperluan lainnya seperti buku pelajaran untuk
menunjang pendidikan anaknya atau bahkan sekadar memberikan uang jajan saja
tidak mampu.
Pada
dasarnya naluri semua orang tua menginginkan nasib anaknya lebih baik dari
orang tuanya tetapi apalah daya jika keterbatasan ekonomi memupuskan segala
harapan itu. Anak-anak tidak punya pilihan lain. Mereka terpaksa putus sekolah
dan tidak sedikit dari mereka yang rela menghabiskan waktu remaja mereka di
jalan demi untuk survive. Ada yang berjualan tisu di tengah kemacetan
ibukota, menjadi pengamen, tukang parkir, preman jalanan, menjadi kurir
narkoba, bahkan terpaksa masuk dalam lingkaran prostitusi. Akhirnya mereka yang
diharapkan menjadi aset bangsa yang berharga malah menajdi beban dan masalah
bagi negara.
Dunia
memang terasa begitu kejam bagi mereka yang tidak beruntung entah karena
struktur negara yang kacau dan selalu menjadikan mereka sebagai korban atau
memang disebabkan oleh diri mereka sendiri. Entahlah. Namun di sisi lain ada
orang-orang yang tidak ingin melewatkan sedetik pun waktunya karena mereka
kebetulan beuntung dan dapat menikmati segala kemewahan dunia. Jika di satu sisi
ada orang yang mencoba bertahan hidup hanya dengan uang sepuluh ribu rupiah
dalam sehari, di sisi lain ada juga yang menghabiskan satu juta rupiah hanya
untuk memenuhi sifat hedonismenya seperti untuk makan di restoran mewah,
berfoya-foya di mall elit bahkan hanya untuk sekadar minum kopi di cafe
ternama. Begitulah kira-kira gambaran kehidupan sehari-hari yang saya saksikan
di negeri ini, negeri yang katanya kaya raya. Lalu apakah masih bisa dikatakan
negara yang kaya jika rakyatnya masih berada dalam kesenjangan yang begitu
lebar?
Di
balik kesenjangan yang tak kunjung membaik, sebenarnya Indonesia memiliki
potensi yang tidak dimiliki negara lain yang dapat membantu Indonesia untuk
mencapai cita-cita menjadi negara maju yang seluruh rakyatnya dapat menikmati
kesejahteraan secara merata tanpa ada lagi gap yang begitu lebar. Secara
geografis Indonesia terletak di titik yang paling strategis dan penting di
Lautan Hindia serta menghubungkan Samudera Pasifik dan Laut Cina Selatan (
Wirutomo 2012: 46). Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas sekitar
1.919.440 km2 dan 13.667 pulau serta merupakan berpenduduk keempat
terpadat di dunia dengan komunitas muslim terbesar (Nguyen dan Ritcher 2003: 1
dalam Wirutomo: 47). Dengan letaknya yang strategis tersebut Indonesia memiliki
keuntungan yang tidak dimiliki oleh negara lain yaitu diantaranya kekayaan alam
yang melimpah karena kekayaan alam menjadi faktor penting dalam keberlangsungan
hidup maupun kemajuan suatu negara.
Jika
negara dapat memanfaatkan kekayaan alam tersebut apalagi disertai dengan
perkembangan teknologi yang canggih maka tidak mustahil bagi Indonesia untuk
menjadi negara yang maju dan diperhitungkan di kancah internasional. Namun
maslahnya adalah siapa yang akan mampu membawa Indonesia ke posisi tersebut?
Tentu saja jawabannya adalah para generasi muda yang akan memegang estafet kepengurusan
bangsa. Lalu bagaimana bisa mengandalkan dan berharap pada generasi muda jika masalah kemiskinan membuat
mereka tereksklusi dari hak-haknya? Di sinilah pemimpin harus membuktikan
kualitasnya, terutama pemimpin tertinggi negara. Sebagai pemegang mandat
tertinggi, seorang Presiden harus mampu melindungi dan menjamin hak-hak seluruh
warga negaranya terutama menyelesaikan masalah kemiskinan dan kesenjangan meskipun
kesenjangan memang akan menjadi masalah yang tak ada habisnya. Di negara maju
seperti Amerika Serikat pun kesenjangan itu masih ada karena stratifikasi dalam
masyarakat tidak dapat dimusnahkan begitu saja. Masyarakat selalu melekat
dengan stratifikasi sosial namun usaha untuk mengurangi kesenjangan harus tetap
diupayakan dan tidak ada alasan bagi Indonesia untuk menyerah dalam mencapai
Indonesia yang hebat. Tidak ada yang mustahil
bagi negara yang memiliki kekayaan alam melimpah yang pada masa lalu
menarik perhatian bangsa imperialis seperti Portugis dan Belanda, dan saat ini
juga menjadi sasaran bagi negara kapitalis besar seperti Amerika Serikat dan
Eropa tetapi lagi-lagi harus dengan peran pemimpin yang berkualitas.
Seorang
pemimpin tertinggi harus mampu menurunkan garis kesenjangan atau masalah-masalah
yang dihadapi negara serta mampu meningkatkan potensi yang dimiliki negara sehingga
garis antara masalah dan potensi negara akan bertemu di jarak yang tidak
terlalu lebar atau akan berjalan seimbang. Indonesia tidak membutuhkan pemimpin
yang pandai dalam merangkai kata dan janji yang berlebihan, juga tidak
membutuhkan seorang ”idola”. Menurut Bauman, idola tidak hadir dengan maksud
‘menunjukkan dan menawarkan jalan’ karena yang mereka tawarkan adalah ‘diri’
atau keluarga dan saudara-saudara mereka sendiri (Robertus 2013). Namun Indonesia
membutuhkan pemimpin yang tegas dan teguh pada prinsip-prinsip negara terutama the five principle yaitu
butir-butir yang terdapat dalam Pancasila. Selain itu ia juga harus ingat bahwa
tujuannya adalah menyelesaikan masalah dan memaksimalkan potensi negaranya,
bukan untuk kepentingan kelompok tertentu.
Selain
itu, pemimpin juga harus berani berjuang dan membuat suau perubahan yang pasti
berisiko. Kita bisa lihat sosok Nelson Mandela, presiden berkulit hitam pertama
di Afrika Selatan. Ia adalah Seorang pejuang kemanusiaan yang memperjuangkan
kesetaraan ras dan meruntuhkan paham politik Apharteid di Afrika Selatan. Dalam
perjuangannya, ia pernah dipenjara selama 27 tahun oleh pemerintah Apartheid
yang berkuasa. Namun akhirnya ia pun menjadi politisi Afrika Selatan yang
menjabat sebagai Presiden Afrika Selatan sejak 1994 sampai 1999. Tanpa
keberanian sosok Nelson Mandela, mungkin sampai saat ini politik Apharteid
masih bertahan di Afrika Selatan. Pemimpin seperti itulah yang Indonesia
butuhkan. Tanpa perubahan, sesuatu tidak akan berkembang apalagi maju di titik
tertinggi. Masa depan Indonesia memang ditentukan oleh kualitas seluruh
masyarakat Indonesia.
Sebagai
seseorang yang dipercaya rakyat, pemimpin yang berkualitas harus cerdas dan
cekatan. Ia harus cerdas dalam membaca kesempatan sehingga tidak melewatkan
satu kalipun kesempatan dalam upaya kemajuan bangsa serta cerdas dalam menjalin
hubungan atau kerja sama dengan institusi ataupun bangsa lain tanpa
memperhatikan kesamaan agama maupun ras tertentu karena relasi dengan negara
lain sangatlah penting dalam perkembangan suatu negara. Selain itu, pemimpin
juga harus cekatan dalam menyelesaikan apapun terkait nasib dan masa depan
seluruh rakyatnya. Ia tidak boleh menyia-nyiakan waktu untuk berpikir terlalu
lama dalam mengambil keputusan atau kebijakan. Mengulur-ulur waktu sama saja
menunda kemajuan negara tetapi tentu saja tidak pula dengan tergesa-gesa dalam mengambil
suatu keputusan.
Beruntung,
pemimpin di masa kemerdekaan ini tidak harus turun di medan perang dan bertaruh
nyawa, mereka hanya dituntut untuk bisa dekat dengan rakyat. Ini merupakan hal
yang sangat sentral karena tujuan dari segala pembangunan sebuah negara adalah
rakyat. Seluruh kebijakan maupun peraturan yang dibuat oleh pemerintah
bertujuan untuk memberikan kehidupan yang layak, memberikan rasa aman, damai,
nyaman, keadilan, kemerataan, serta menyelesaikan segala permasalahan yang
terjadi di kehidupan sehari-hari rakyat terutama masalah kemiskinan. Pemimpin
harus selalu ingat dengan rakyatnya karena ia bukan hanya berkewajiban memimpin
tetapi juga melayani seluruh rakyat. Karena semuanya berasal dari rakyat maka
pemimpin harus dekat dan turun langsung menemui rakyat sehingga bisa melihat
apa yang sebenarnya terjadi. Ia akan mengerti dan merasakan langsung masalah
rakyatnya jika ia berbaur dan bersedia mendengarkan langsung segala keluh kesah
rakyatnya terutama mereka yang kurang beruntung. Kedekatan pemimpin dengan rakyat adalah
sesuatu yang sangat penting sehingga harus dimiliki oleh pemimpin tertinggi
Indonesia.
Seperti
itulah dahsatnya pengaruh kualitas pemimpin terhadap negara yang dipimpinnya.
Pemimpin tertinggilah yang akan membawa arah masa depan dan nasib suatu negara
apakah akan maju sesuai dengan cita-cita, apakah akan berdiam diri di tempat,
atau bahkan mundur perlahandari tuntutan dan masalah karena tak memiliki
kekuatan dan keberanian untuk merubahnya. Namun sebagai rakyat yang cerdas,
kita juga harus mampu memimpin diri kita sendiri sebelum kita dapat memimpin
orang lain, perusahaan, dan akhirnya memimpin negara. Seperti yang diungkapkan
oleh Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul Self Driving, sesorang
harus berusaha untuk menjadi pemimpin yang dimulai dari drive yourself, drive
your people, drive your company, drive your organization, and drive yor
nation. Selain ditentukan oleh kualitas pemimpin, negara yang maju juga
harus memiliki rakyat yang bersifat pro aktif dan partisipatif dalam upaya
memajukan bangsa. Oleh karena itu kita sebagai rakyat yang telah mempercayai
orang lain untuk melaksanakan mandat tertinggi negara, kita tidak boleh hanya
berdiam diri menunggu keadaan negara lebih baik ataupun hanya bisa mengkritik
bahkan turun ke jalan untuk menyampaikan ketidakpuasan apalagi dengan merusak
fasilitas atau dengan cara-cara kekerasan. Namun kita harus menjadi warga negara
yang aktif, responsif, dan turut menjadi agen perubahan bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar