Sejak hari itu, aku benci stasiun
kereta. Aku benci semua suasana itu. Aku benci menunggu kereta. Aku benci
berada di tengah-tengah orang-orang yang bersuka cita itu. Dulu, aku selalu
menikmati perjalanan. Menunggu kereta sambil minum kopi, menikmati bisisngnya
suara kereta, dan tanaman yang bergerak sangat cepat sehingga tak bisa aku
pandangi terlalu lama. Selalu milih duduk di dekat jendela diiringi playlist
dari One Direction dan Taylor Swift sambil membayangkan betapa senangnya sampai
di rumah nanti, melepas kangen dengan kota kelahiran, dan tentunya dengan rumah
dan seisinya.
Tapi, Rabu 11 Januari lalu merubah
semua itu. Bagaimana mungkin aku bisa menikmati suasana stasiun, menikmati
perjalanan jika kepulanganku adalah untuk melihat kakakku untuk terakhir
kalinya. Hampir setiap detik aku melihat jam yang menempel di tangan. Dan
setiap detik itu pula aku ingat kakakku dan membayangkan bagaimana aku hidup
tanpa dia nanti. Ya, ini adalah jam tangan miliknya. Kami memang seringkali
bertukar baju, sepatu, jam tangan, tas, dan barang-barang lainnya. Tapi lebih
banyak dia yang membeli dan aku yang memakainya. Bagaimana bisa nanti aku hidup
hanya dengan barang-barang yang dia tinggalkan.
Duka yang sangat hebat itu membuat air mataku tak mau
berhenti menetes. Aku tak peduli lagi apa kata orang-orang yang melihatku
dengan air mata yang membuat mataku semakin bengkak. Tak bisa aku jelaskan
dengan kata, apalagi kalimat untuk menggambarkan perasaanku waktu itu. Jika
Tuhan menawarkan keajaiban, maka aku akan meminta segera sampai di rumah agar
bisa menemani kakakku lebih lama untuk yang terakhir.
Kereta itu mengantarkanku ke Stasiun Kebumen dengan waktu 7
jam. Tepat jam 04.18 aku sampai di stasiun yang tak lagi memiliki rasa yang
sama seperti dulu. Keluar dari pintu stasiun, aku melihat kakak pertamaku dan
seketika kakiku terasa lemas dan hatiku berdetak dengan sangat cepat. Dari
stasiun masih butuh waktu 10 menit lagi untuk sampai rumah. Di mobil, aku hanya
menangis dan menangis sampai aku sulit untuk bernafas. Kemudian sampailah aku
di rumah. Ada tenda di depan rumah, banyak sekali kursi dan tetangga sedang
berkumpul. Turun dari mobil, aku sangat lemas, kakiku tak mampu untuk berdiri
sendiri apalagi untuk berjalan dan disana ada Bapak yang langsung memeluk
kemudian memapahku untuk berjalan dan masuk ke rumah.
Masuk ke rumah, aku
langsung memeluk Ibu yang dari pagi manangis dan tidak mau keluar dari kamar.
Dia memelukku sangat erat, sangat erat sambil berkata “Kakakmu udah tenang,
ikhlaskan dia. Alloh menjemputnya dengan sangat mudah, kakakmu tidak merasakan
sakaratul maut yang menyakitkan. Dia akan lebih bahagia disana”. Ibu merangkai
kalimat itu dengan terbata-bata karna disertai tangisan dari kami semua. Hampir
setengah jam ibu memelukku. Semuanya seperti mimpi, aku tidak pernah
membayangkan itu semua akan terjadi. Lalu aku diantar ke rumah depan untuk
melihat kakakku. Biasanya pagi-pagi aku melihat dia berdandan rapi bersiap
untuk mengajar ke sekolah. Tapi pagi itu, aku melihat dia tidur di atas meja
dan dibungkus kain kafan. Aku ingin sekali memeluknya tapi air mataku tak bisa
berjenti menetes sehingga aku hanya diperbolehkan mengelus dahi dan rambutnya.
Wajahnya sangat putih dan sungguh aku ingin menciumnya tapi lagi-lagi air
mataku tidak boleh sampai menetes di tubunhya.
Biasanya pula pagi-pagi di Depok, kami masak bareng dan dia
yang selalu mencicipi masakan karna aku ngga bisa nelen apapun jika masih
terlalu pagi dan lidah ku pun tidak begitu peka merasakan sesuatu. Tapi pagi
itu kami tidak lagi masak bareng, tapi dia terbaring di depanku dan aku hanya
bisa berdoa dan membacakan surat yasin untuknya. Lalu, besok aku masak bareng
siapa? Siapa yang mau mencicipi masakanku yang seringkali gagal? Aku tidur
sekamar dengan siapa? Aku pinjem baju ke siapa?
Jam 7 pagi dia dimakamkan. Dan aku, tentu saja ikut
mengantarkan dia untuk yang terakhir meski sebenarnya aku tak kuat menopang
tubuhku sendiri, kakak pertamaku lah yang mendampingiku. Ibu dan kakak
perempuan ku yang lain tidak ada yang bisa ikut. Mereka tak kuasa dan tak tega
menyaksikan pemakamannya secara langsung. Langkah demi langkah aku mengantarkan
dia. Aku berjalan dengan sempoyongan dan dia dibawa dengan keranda itu, keranda
yang tak pernah aku kira akan mampir di rumahku secepat ini, apalagi membawa
dia yang masih begitu muda untuk bertemu ajalnya.
Aku menyaksikan semua proses pemakaman, aku melihat bagaimana
ia dimasukkan ke dalam liang lahat, dikumandangkan adzan dan kemudian ditutup
kembali dengan tanah, aku melihat bagaimana Pakdhe membacakan doa untuknya. Ya
Tuhan, sungguh aku tak kuasa melihat orang yang selalu bersamaku kini harus
dipisahkan dengan cara seperti ini tapi aku juga tak mau melewatkan momen
terakhirku dengannya. Hanya itu yang bisa kulakukan.
Di pemakaman, banyak sekali orang. Terlihat eman-teman SMK
dan teman kuliahnya menangis tersedu-sedu, dan tentu saja ada pacarnya. Ia baru
pertama kali ke rumahku dan di waktu pertamanya ini, ia datang bukan datang
untuk melamar kakakku tapi datang untuk menyaksikan pemakaman calon
tunangannya. Bahkan ia tak sempat melihat kakakku karna pada saat ia datang,
kakak sudah di dalam keranda. Aku tahu persis apa yang ia rasakan. Pernikahan impian
mereka pupus dan hanya menjadi impian mereka saja. Rasanya aku tak mau
meninggakan makam, apalagi melihat batu nisan yang bertuliskan namanya, aku tak
tega dan ingin sekali menemani kakakku lebih lama lagi tapi semua orang
menyuruhku untuk pulang dan aku pun pulang dengan dipapah kakak pertamaku. Hidupku
seperti ikut berakhir pula waktu itu, aku tak bisa membayangkan hidup tanpa
dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar