Sabtu, 28 Januari 2017

Harus Secepat Inikah?



            Sejak hari itu, aku benci stasiun kereta. Aku benci semua suasana itu. Aku benci menunggu kereta. Aku benci berada di tengah-tengah orang-orang yang bersuka cita itu. Dulu, aku selalu menikmati perjalanan. Menunggu kereta sambil minum kopi, menikmati bisisngnya suara kereta, dan tanaman yang bergerak sangat cepat sehingga tak bisa aku pandangi terlalu lama. Selalu milih duduk di dekat jendela diiringi playlist dari One Direction dan Taylor Swift sambil membayangkan betapa senangnya sampai di rumah nanti, melepas kangen dengan kota kelahiran, dan tentunya dengan rumah dan seisinya.
            Tapi, Rabu 11 Januari lalu merubah semua itu. Bagaimana mungkin aku bisa menikmati suasana stasiun, menikmati perjalanan jika kepulanganku adalah untuk melihat kakakku untuk terakhir kalinya. Hampir setiap detik aku melihat jam yang menempel di tangan. Dan setiap detik itu pula aku ingat kakakku dan membayangkan bagaimana aku hidup tanpa dia nanti. Ya, ini adalah jam tangan miliknya. Kami memang seringkali bertukar baju, sepatu, jam tangan, tas, dan barang-barang lainnya. Tapi lebih banyak dia yang membeli dan aku yang memakainya. Bagaimana bisa nanti aku hidup hanya dengan barang-barang yang dia tinggalkan.
Duka yang sangat hebat itu membuat air mataku tak mau berhenti menetes. Aku tak peduli lagi apa kata orang-orang yang melihatku dengan air mata yang membuat mataku semakin bengkak. Tak bisa aku jelaskan dengan kata, apalagi kalimat untuk menggambarkan perasaanku waktu itu. Jika Tuhan menawarkan keajaiban, maka aku akan meminta segera sampai di rumah agar bisa menemani kakakku lebih lama untuk yang terakhir.
Kereta itu mengantarkanku ke Stasiun Kebumen dengan waktu 7 jam. Tepat jam 04.18 aku sampai di stasiun yang tak lagi memiliki rasa yang sama seperti dulu. Keluar dari pintu stasiun, aku melihat kakak pertamaku dan seketika kakiku terasa lemas dan hatiku berdetak dengan sangat cepat. Dari stasiun masih butuh waktu 10 menit lagi untuk sampai rumah. Di mobil, aku hanya menangis dan menangis sampai aku sulit untuk bernafas. Kemudian sampailah aku di rumah. Ada tenda di depan rumah, banyak sekali kursi dan tetangga sedang berkumpul. Turun dari mobil, aku sangat lemas, kakiku tak mampu untuk berdiri sendiri apalagi untuk berjalan dan disana ada Bapak yang langsung memeluk kemudian memapahku untuk berjalan dan masuk ke rumah.
Masuk ke rumah,  aku langsung memeluk Ibu yang dari pagi manangis dan tidak mau keluar dari kamar. Dia memelukku sangat erat, sangat erat sambil berkata “Kakakmu udah tenang, ikhlaskan dia. Alloh menjemputnya dengan sangat mudah, kakakmu tidak merasakan sakaratul maut yang menyakitkan. Dia akan lebih bahagia disana”. Ibu merangkai kalimat itu dengan terbata-bata karna disertai tangisan dari kami semua. Hampir setengah jam ibu memelukku. Semuanya seperti mimpi, aku tidak pernah membayangkan itu semua akan terjadi. Lalu aku diantar ke rumah depan untuk melihat kakakku. Biasanya pagi-pagi aku melihat dia berdandan rapi bersiap untuk mengajar ke sekolah. Tapi pagi itu, aku melihat dia tidur di atas meja dan dibungkus kain kafan. Aku ingin sekali memeluknya tapi air mataku tak bisa berjenti menetes sehingga aku hanya diperbolehkan mengelus dahi dan rambutnya. Wajahnya sangat putih dan sungguh aku ingin menciumnya tapi lagi-lagi air mataku tidak boleh sampai menetes di tubunhya.
Biasanya pula pagi-pagi di Depok, kami masak bareng dan dia yang selalu mencicipi masakan karna aku ngga bisa nelen apapun jika masih terlalu pagi dan lidah ku pun tidak begitu peka merasakan sesuatu. Tapi pagi itu kami tidak lagi masak bareng, tapi dia terbaring di depanku dan aku hanya bisa berdoa dan membacakan surat yasin untuknya. Lalu, besok aku masak bareng siapa? Siapa yang mau mencicipi masakanku yang seringkali gagal? Aku tidur sekamar dengan siapa? Aku pinjem baju ke siapa?
Jam 7 pagi dia dimakamkan. Dan aku, tentu saja ikut mengantarkan dia untuk yang terakhir meski sebenarnya aku tak kuat menopang tubuhku sendiri, kakak pertamaku lah yang mendampingiku. Ibu dan kakak perempuan ku yang lain tidak ada yang bisa ikut. Mereka tak kuasa dan tak tega menyaksikan pemakamannya secara langsung. Langkah demi langkah aku mengantarkan dia. Aku berjalan dengan sempoyongan dan dia dibawa dengan keranda itu, keranda yang tak pernah aku kira akan mampir di rumahku secepat ini, apalagi membawa dia yang masih begitu muda untuk bertemu ajalnya.
Aku menyaksikan semua proses pemakaman, aku melihat bagaimana ia dimasukkan ke dalam liang lahat, dikumandangkan adzan dan kemudian ditutup kembali dengan tanah, aku melihat bagaimana Pakdhe membacakan doa untuknya. Ya Tuhan, sungguh aku tak kuasa melihat orang yang selalu bersamaku kini harus dipisahkan dengan cara seperti ini tapi aku juga tak mau melewatkan momen terakhirku dengannya. Hanya itu yang bisa kulakukan.
Di pemakaman, banyak sekali orang. Terlihat eman-teman SMK dan teman kuliahnya menangis tersedu-sedu, dan tentu saja ada pacarnya. Ia baru pertama kali ke rumahku dan di waktu pertamanya ini, ia datang bukan datang untuk melamar kakakku tapi datang untuk menyaksikan pemakaman calon tunangannya. Bahkan ia tak sempat melihat kakakku karna pada saat ia datang, kakak sudah di dalam keranda. Aku tahu persis apa yang ia rasakan. Pernikahan impian mereka pupus dan hanya menjadi impian mereka saja. Rasanya aku tak mau meninggakan makam, apalagi melihat batu nisan yang bertuliskan namanya, aku tak tega dan ingin sekali menemani kakakku lebih lama lagi tapi semua orang menyuruhku untuk pulang dan aku pun pulang dengan dipapah kakak pertamaku. Hidupku seperti ikut berakhir pula waktu itu, aku tak bisa membayangkan hidup tanpa dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar