Senin, 30 Januari 2017

Gerobak dan Penantian



Badannya kecil dan mungkin tinggi badannya hanya sekitar 145 cm, rambutnya terlihat pirang karena terlalu lama terkena sinar matahari. Dialah Mba Rizka, seorang pemulung yang awalnya saya pikir berusia di atas 27 tahun. Ada sesuatu yang berbeda darinya sehingga saya tergerak untuk mendekat dan berbincang dengannya. Saya memperhatikan perutnya yang terlihat sedang mengandung dan ternyata benar, usia kandungannya sudah sembilan bulan. Ini berarti bahwa dalam hitungan hari ia akan melahirkan seorang bayi. Mungkin ibu hamil pada umunya menanti waktu kelahiran dengan bersantai di rumah. Namun Mba Rizka menantinya dengan berpanas-panasan di jalan, mengikuti suaminya memulung. Kegiatan itu rutin ia lakukan sejak Juni 2016 saat suaminya memutuskan untuk menjadi pemulung. Perutnya yang semakin membesar tidak menjadi halangan baginya. Di hari-hari menjelang kelahiran, ia tetap setia menemani langkah suaminya untuk memungut sampah-sampah itu.
            Bersama dengan sebuah gerobak tua, Mba Rizka dan suaminya menyusuri jalanan di daerah Depok II Timur. Mereka mulai beraktivitas pada pukul 05.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Sang suami berada di depan untuk menarik gerobak yang berisi barang-barang hasil memulung sementara sang istri mendorongnya dari belakang meskipun seringkali dilarang suaminya karena khawatir akan kondisi bayinya. Namun Mba Rizka tetap tidak tega melihat sang suami membawa beban gerobak itu sendirian. Ia selalu ingin meringankan beban suaminya.


Di tengah perbincangan, ia banyak bercerita tentang kisah hidupnya dan tak jarang ia berbicara sambil tersenyum seolah sedang tak menanggung beban apa-apa. Ia selalu menantikan waktu kelahiran bayinya. Bukan hanya karena ingin melihat bayinya, tetapi ia juga menantikan momen melahirkan itu. Dulu ia bercita-cita ingin menjadi bidan namun keadaan tak  berpihak padanya. Ia mengatakan “saya suka ngeliat bidan yang bisa bantu orang lahiran. Makannya saya pengen banget ngeliat dan merasakan langsung melahirkan sama bidan. Jadi walaupun gak jadi bidan, saya tau gimana proses melahirkan hehe”. Raut wajahnya terlihat bahagia. Namun bagaimana dengan hatinya? Entahlah.
            Mba Rizka dan suaminya tinggal bersama dengan pemulung-pemulung lainnya di sebuah tempat yang disediakan oleh bosnya di daerah Abadijaya. Sementara itu, keluarga Mba Rizka tinggal di Kalimantan. Saat saya menanyakan di kota dan Kalimantan bagian manakah keluarganya tinggal, ia menjawab “aduh gak tau deh dimananya. Pokoknya waktu itu ada saudara yang ngajakin, katanya ada kerjaan dan hidup di sana hidup tuh lebih gampang jadi keluarga saya ya ngikut aja”. Mendengar jawaban tersebut, jujur saya kaget. Bagaimmana bisa seorang anak tidak mengetahui pasti keberadaan orang tua dan saudara-saudaranya. Mungkin karena selama ini yang selalu ia pikirkan hanyalah urusan perut shingga tak ada waktu lagi untuk memikirkan hal lain. Mba Rizka adalah anak pertama dari sembilan bersaudara. Orang tuanya yang bekerja serabutan dan berpenghasilan pas-pasan harus menghidupi ke-delapan anaknya. Sebagai anak sulung, tak ada yang bisa diharapkan dari Mba Rizka. saat ini, selain tidak mengetahui secara pasti dimana orang tuanya tinggal, Mba Rizka juga sangat jarang berkomunikasi dengan orang tuanya karena ia tak mampu membeli pulsa. 
Foto di atas diambil ketika Mba Rizka dan suaminya sedang beristirahat di emperan toko. Sejak ia hamil, mereka memang lebih sering berhenti di suatu tempat untuk beristirahat. Kapanpun Mba Rizka merasa lelah, mereka akan berhenti dan beristirahat. Ketika saya bertanya kenapa ia tidak tinggal di rumah saja, ia menjawab “bosen kalau di rumah, gak ada hiburan, gak ada TV. Mending nemenin suami, ya itung-itung buat olah raga ibu hamil kan hehe dan alhamdulillah gak pernah sakit di jalan. Ya paling nyeri-nyeri biasa aja dan abis itu ilang sendiri”. Jawaban tersebut mengajarkan saya bahwa seberat apapun keadaan jika dimaknai dengan ikhlas dan bersyukur maka semua akan terasa lebih mudah.
            Kemudian, di tengah perbincangan, saya menanyakan umur Mba Rizka dan ia menyebutkan dua puluh dua. Ya, itu berarti umurnya hanya selisih satu tahun dengan umur saya. Mendengar jawaban tersebut, saya semakin kaget karena di umur yang hampir sama ini, saya dan Mba Rizka memiliki kehidupan yang sangat berbeda. Di sini saya adalah orang yang lebih beruntung darinya. Ketika itu saya berfikir betapa tidak pantasnya saya seringkali mengeluh dengan tugas-tugas kuliah dan urusan-urusan lain yang mungkin sebenarnya sepele. Ya, hanya karena hal-hal itu terkadang saya lupa untuk bersyukur pada yang di atas. Lalu Mba Rizka? setiap hari ia harus menghadapi hidup yang begitu keras tetapi ia jarang mengeluh dan bahkan dengan perut yang semakin membesar ia tetap semangat bekerja bersama suaminya berkeliling mencari sampah demi sampah yang hanya mampu memyelamatkan kebutuhan perutnya.
            Hasil dari sampah-sampah yang telah mereka pilah kemudian ditimbang dan ditukarkan dengan uang setiap dua minggu sekali. Setiap kali penimbangan, rata-rata penghasilan kotor mereka adalah Rp 400.000 kemudian setelah dipotong uang kontrakan dan uang cicilan hutang, mereka hanya menerima Rp 200.000. jadi, setiap hari mereka hanya bertahan dengan uang kurang dari Rp 15.000. Tentu saja uang itu tidak dapat menutupi kebutuhan setiap hari. Lalu saya bertanya bagaimana strategi mereka untuk makan setiap hari. Lalu ia mengatakan “alhamdulillah, ada aja orang yang ngasih makanan ke kita. Bukan Cuma makanan, baju juga suka dikasih orang.  Padahal saya tidak pernah minta. Sebenernya ngerasa gak enak kalau setiap hari dikasih tapi mau gimana lagi, kita gak bisa apa-apa”.
            Ya, pasti banyak orang yang iba melihat keadaan mereka apalagi melihat Mba Rizka yang sedang hamil tua sehingga banyak orang yang memberikan makanan ataupun barang-barang yang bagi mereka mungkin tidak seberapa tapi bagi Mba Rizka dan suaminya sangat berharga dan dapat membuatnya bertahan hidup hingga saat ini. Namun ternyata tidak semua orang berbuat baik padanya. Salah satu tetangganya yang juga pemulung, seringkali memfitnah Mba Rizka dan suaminya di depan bosnya. Entah apa alasannya, namun hal itu hanya dipendam dan mereka percaya bahwa Tuhan yang akan membalas semua perilakunya.
            Menjelang kelahiran anak pertamanya, mereka belum mulai menabung sedikit pun untuk biaya kelahiran. Ia mengatakan “boro-boro nabung, buat makan aja kurang dan untungnya selalu ada orang baik yang ngasih kita makanan. Paling buat biaya besok, kita ngandelin utang dari bos. Nanti bayarnya dipotong dari hasil timbangan”. Mereka memang selalu mengandalkan kebaikan hati bosnya. Entah telah berapa banyak utang mereka sampai saat ini namun untungnya bosnya tidak pernah menerapkan sistem bunga.
Dalam perbincangan itu, tidak hanya saya yang selalu bertanya pada Mba Rrizka tetapi ia juga tidak segan untuk bertanya pada saya. Mungkin karena dia juga merasa kita seumuran. Saya seperti sedang mengobrol biasa dengan teman saya namun bedanya adalah, jika biasanya obrolan kami adalah tentang tugas kuliah, kerja kelompok, tempat makan yang baru buka, hingga harga lipstik berbagai merk. Kali ini, topik perbincangan saya dengan Mba Rizka adalah tentang sebuah kerasnya hidup yang ia jalani, tentang sisi kehidupan yang selama ini mungkin hanya saya lihat di sinetron-sinetron. Sebelum mengakhiri perbincangan, saya sempat menanyakan apa harapan mereka dan kemudian jawabannya adalah “ya pengen berubah lah nasib kita ini, jangan gini-gini aja serba kekurangan”. Ya, perubahan lah yang mereka butuhkan.
            Kehidupan Mba Rizka telah mengajarkan bagimana seharusnya bersyukur atas apa yang saya miliki sekarang. Ia juga mengajarkan saya bahwa mungkin masih banyak orang yang senasib dengannya dan apa yang saya lihat dari dia dan suaminya hanyalah potret kecil dari disadvantage people di negeri ini. Kemiskinan yang mereka hadapi tidak selamanya akibat darii rasa malas. Buktinya adalah Mba Rizka dan suaminya, mereka telah berusaha keras untuk mencari pekerjaan yang layak namun karena tidak memiliki pendidikan dan skill, tenaga mereka tak dihargai dan jalan keluarnya adalah menjadi pemulung. Tak selamanya mereka pemalas tetapi ketiadaan akses membuat kemiskinan itu semakin membelenggu dan sulit untuk hilang. Untuk orang-orang seperti itulah suatu perubahan diperlukan. Suatu perubahan yang akan merubah hidup mereka menjadi lebih baik.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar